PELANGI
PERSAHABATAN
oleh : at-Tin Lee Thary
Rumah ini serasa neraka. Apa nggak ada yang
ngerti kalo pertengkaran itu nggak bakal menyelesaikan masalah?. Selalu seperti
ini, dan nggak ada yang menganggap aku ada…
Kemana aku harus pergi menghilangkan penat
dan perih yang telah membusuk di hati ini?
Icha’
bangkit dari duduknya sembari menutup buku harian yang baru saja ditulisnya.
Tadi ia sempat menelpon Zahra, teman karibnya agar menjemputnya di rumah sore
ini. Namun ia tidak bisa. Padahal rasa sakit dan jenuh sudah bersarang
dihatinya sejak
seminggu yang lalu, saat Papi dan Maminya mulai bertengkar lagi. Icha’ sudah bosan menangis, karena ia tahu tangisnya tak akan menghasilkan apa-apa, dan sekarang ia
ingin menceritakan kisah sedihnya kepada Zahra tapi sahabatnya itu tidak ada di
sampingnya sekarang.
“Kemana aku harus pergi?” bisiknya menahan tangis.
Icha’
tetap berjalan tak tentu arah, sampai akhirnya langkahnya terhenti karena
menatap sebuah gedung besar dengan cahaya remang-remang. Tempat yang dulu
sering ia kunjungi untuk melepas penatnya,
sebelum menggunakan jilbab yang kini senantiasa melindungi auratnya.
***
Sudah tiga hari Annisa
tidak menegurku. Aku tidak mengerti apa yang difikirkan sahabat karibku itu.
Apa hanya kerena aku tidak memenuhi permintaannya untuk menjemputnya kemarin
sore membuatnya marah dan tidak pernah menyapaku?. Kami memang bersahabat
setahun yang lalu aku merasa nyaman bersamanya karena kami memiliki prinsip
yang sama. Walapun Annisa yang
biasa kupanggil Icha’ memiliki banyak
perbedaan denganku dalam sifat. Icha
yang manja, cuek dan gengsian. Dan aku, yach aku bisa dikategorikan sebagai
cewek yang mandiri dan ramah.
“Kamu baik-baik saja kan, Ra?” Suara lembut Kak Mira
menyadarkanku dari lamunan tentang Icha. Aku hanya tersenyum lemah, malu juga
kepergok ngelamun, “Lebih baik bukunya ditutup kalo belum bisa konsentrasi”
saran Kak Mira dan aku mematuhinya. Suasana sepi perpustakaan membuatku kembali
termenung, dan saat itu aku tersadar nggak ada Icha’ ternyata nggak seru. Tapi
apa yang harus ku lakukan, minta maaf? Bukannya ia yang salah? Bukannya ia yang
tak menegurku? Sudahlah terserah dia. Aku melangkah pelan keluar dari
perpustakaan tapi sebelumnya aku pamit pada Kak Mira yang tak lain adalah seniorku di Rohis.
***
“Ra kamu ma Icha’ lagi berantem ya?” tanya Silvi, teman sebangku ku. “Kok
kamu bisa nanya gitu?” aku balik bertanya. “Iya,
abisnya aku jarang ngeliat kalian main berdua, terus
kamu sekarang lebih ngabisin waktu istirahat di Perpus,
nggak
sumpek tu?” tanyanya lagi. Aku terjebak,
tapi hanya bisa tersenyum lemah. “Humph…cerita
nggak ya…?” aku masih berfikir. “Ra … kamu ada masalah?” tanyanya lagi. Dan
setelah itu cerita tentang aku dan Icha’ terus mengalir dari bibirku…
“Oooh…gitu…ya udah lebih baik
kamu aja yang minta maaf, Bukannya Kak Iwan pernah bilang kalo kita harus
menyambung silaturrahmi?!!” jelas Silvi panjang “Iya, Vi… aku ngerti, tapi kan yang salah itu
Icha’. Dia yang tiba-tiba cuekin aku!”
aku membela diri. “Zahra, kamu kayak gak tau Icha, dia kan emang gitu, cuek dan
gengsi. Lebih baik kamu yang minta maaf gih, tu kan juga buat kebaikan
persahabatan kalian! “Silvi kembali menasehati. Aku memikirkan kata-kata Silvi
yang baru saja diucapkannya. Silvi memang benar, aku tak mau persahabatan ini
hancur karena egoku. “Ya sudah, nanti aku akan menemuinya” ucapku pada Silvi
yang hanya di balas dengan senyum.
***
“Pulang bareng yuk, Cha’!” ajakku menegur Icha
saat kami berpapasan di tempat parkir. Dapat tertangkap dipengelihatanku kening
Icha berkerut heran, “Apa-apaan ini?” geramku
dalam hati. Sejak kapan Icha
terheran-heran seperti itu saat aku mengajaknya pulang bersama?.
“Sorry yach, aku pulang
bareng Vera jawabnya simpel, sembari berlalu dari hadapanku. Apa-apaan ini?
Sejak kapan Icha berubah seolah ia tidak mengenalku? Sejak kapan Icha mau
berteman dengan Vera, orang yang hidup dengan penuh kebebasan itu? Aku sudah
muak dengan semua ini.
“Icha’, kamu kenapa sih?” tanyaku saat berhasil mendahului
langkahnya. Icha membisu, Icha’ membisu, ia tidak menjawab pertanyaanku. “Kalau kamu emang
masih marah karena aku nggak jemput kamu tiga hari yang lalu, aku minta maaf,
lagipula aku kan udah ngasi tau kalau nenekku baru datang dan aku harus
menjemputnya di Bandara” lanjutku. Aku berharap Icha’ mau mengerti karena memang itu yang terjadi. Icha
tetap membisu. Aku benar-benar kecewa
padanya, sebesar apakah salahku?. “Sejak kapan kamu
dekat ama Vera? Bukannya kamu yang ngelarang
aku buat bergaul ama dia?” tanyaku hati-hati. Icha’ menatap tajam ke arahku, seakan-akan ia ingin menerkamku, “Seenggaknya dia bakal selalu ada disaat seorang
teman membutuhkannya”. Ucapan Icha’ bagai pedang yang siap menembusku. Aku benar-benar
tidak menyangka hanya karena masalah sepele ini persahabatan kami akan hancur?
Icha’ melangkah menjauh dari hadapanku,
membiarkanku benar-benar mematung. Aku terdiam tanpa mencegahnya berlalu. “Mungkin memang ini yang ia inginkan” fikirku.
***
Saat tiba dirumah,
aku langsung menghempaskan tubuh di atas kasur
biruku, menumpahkan tangis yang sedari tadi aku tahan
agar tidak keluar. “Apa ini benar-benar salahku?” ujarku dalam isakan.
***
Aku menatap bayangan
wajahku yang ada dicermin sembari sesekali merapikan jilbab putih yang menutup
kepalauku. Sudah dua hari ini aku tidak melihat Icha’. Tepatnya dua hari
setelah kejadian di tempat parikir itu, aku hanya bisa berdoa semoga ia
baik-baik saja. Aku melangkah keluar dari toilet kecil sekolah. Tiba-tiba saja
seseorang menepuk pundakku.
“Assalamu’alaikum, Ra”
sapa Kak Mira pelan.
“Wa’alaikumsalam, Kak”
jawabku sembari memberikan sesungging senyum untuk kakak seniorku ini. “Kakak
cuman mau mastiin, Zahra udah dapat undangan rapat besok sore kan?” Upzz… aku hampir lupa kalau besok sore akan ada rapat Rohis
tentang acara Da’i SMU yang akan diadakan minggu depan.
“Iya Kak, Zahra udah dapat undangannya” jawabku memastikan. Kak Mira tersenyum
tenang. “Kalau begitu Kakak boleh nitip undangan buat
Annisa? Soalnya dari kemarin Kakak nggak pernah ketemu Annisa”. Hummph ..
bagaimana ini? Aku bimbang sejenak, namun tanpa ragu kugerakkan tanganku mengambil sepucuk surat yang diberikan Kak Mira.
“Makasi ya, Ra. Kalau gitu Kakak duluan,
ya! Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam”
jawabku lemah.
***
“Apa, Icha’ gak pernah masuk?!”
Aku benar-benar kaget saat Nila memberitahuku bahwa dua hari terakhir ini Icha’ tidak pernah masuk sekolah. “Iya emangnya kamu
nggak tau, Ra?”
tanyanya pelan. Aku
hanya bisa menggeleng pasrah. “Ya udah makasi ya, La” ujarku tak bersemangat.
Aku memang berbeda kelas dengan Icha’,
tapi itu tidak mengubah apapun dalam persahabatan kami, tentunya sebelum
kejadian aku tidak menjemputnya semonggu yang lalu. “Icha’…. Aku harus nyari kamu kemana?” gumamku pelan.
Astaga. Aku baru tersadar, aku belum mencarinya ke rumah. Mengapa aku mendadak jadi tolol begini?
“Assalamu’alaikum”
ujarku sembari mengetuk pintu rumah megah milik Icha’. Tak berapa lama kemudian
pintu kayu itu terbuka, terlihat wajah ayu Tante Lidya, Mama Icha’ tersenyum hambar. “Wa’alaikumsalam, Ra!
Ayo masuk” ajak Tante Lidya, aku pun hanya menurut. “Tumben ke sini, ada apa Ra?”
Tante Lidya memulai percakapan. “Iya Tante Zahra lumayan sibuk akhir-akhir ini,
mm… Icha’nya ada, tante?” tanyaku ragu. Seketika
air muka Tante Lidya berubah,
dapat ku rasakan ada ketegangan di mata hitamnya, sedetik kemudian air matanya
tumpah. Aku kaget melihat Tante Lidya menangis
saat aku menanyakan tentang Icha’. Aku menghampiri Tante Lidya dan duduk di sampingnya berusaha
menenangkan agar tangisannya mereda. “Tante kenapa?” tanyaku pelan. Sesaat tak
ada jawaban, hanya isak yang terdengar “Icha….Icha …” guman tante Lidya pelan.
Setelelah tangisannya mulai mereda Tante Lidya berbisik pelan. “Icha’ Kabur
Ra!” aku benar-benar tercengang “Kabur? Tapi kenapa Tante?” aku mendengar suaraku bergetar, aku benar-benar
tak percaya hal ini. “Waktu itu Tante dan Om bertengkar hebat, Tante marah
besar saat tahu bahwa suami Tante membohongi Tante dan pergi dengan wanita
lain. Saat itu kami benar-benar tidak menyadari bahwa Icha’ mendengar semua
perkataan Papanya, dan ketika Papanya akan menampar Tante, Icha berdiri di
hadapan Papanya dan Icha’ yang merasakan tamparan
itu. Tante sempat kaget, namun setelah itu, tanpa bersuara Icha’ pergi dari
rumah dan sampai sekarang belum pulang”. Tante Lidya mengakhiri ceritanya dengan tangis.
“Tante udah nyoba nyari Icha’?” Tanya Zahra yang
hanya dijawab dengan gelengan. “Tante tahu kalau Icha’ butuh ketenangan, Ra… karena itu Tante nggak nyari
Icha, Tante tahu kalau Icha akan balik kalau
hatinya udah tenang, tapi sampai sekarang Icha’ belum pulang Ra! Tante cemas!” “Memangnya kapan Icha’ pergi, Tante?” tanyaku pelan “Seminggu yang lalu” jawab Tante Lidya tegar. Terlihat dimatanya ada luka yang
sedang dirasakannya. Aku tertunduk.
Seminggu yang lalu.. Astaga! Itu adalah hari dimana Icha’ menelponku untuk menjemputnya. “Ya Allah … tolong
aku … aku memang bukan sahabat yang baik..” bisikku
dalam hati.
***
“Mau kemana Ra? Kok
mukanya lesu gitu?” Tanya Mas Dimas saat aku berjalan gontai menuruni anak
tangga. Aku hanya mendengus kesal. “Ada masalah?” Tanya Mas Dimas seraya
mendekatiku yang berdiri di ujung tangga. Aku hanya menggeleng pelan. “Udah
nggak usah bo’ong, kalau udah balik, Zahra harus cerita semua masalah Zahra ke
Mas, Okey!” seolah tak perlu jawaban, Mas
Dimas membelai kepalaku yang dibaluti
jilbab biru muda dengan pelan seraya berkata “Senyum dan ceria, gitu cara
ngadepin masalah!” nasihatnya bijaksana. Aku hanya bisa
memaksakan seuntai senyum untuk kakak semata wayangku itu.
***
“Mas Dimas, jemput
Zahra di taman ya!” ucapku cepat setelah
menjawab salam Mas Dimas. “Ra, ngomongnya
pelan-pelan dong, biar jelas!”saran Mas Dimas. “Gini Mas, tadi kan Zahra di antar Bang Itok, trus di
tengah jalan mobilnya mogok, ada yang salah ama mesinnya, jadi harus dibawa ke
bengkel, Mas..” ceritaku pelan. “Terus?”
“Mas ke sini jemput Zahra ya, soalnya ada rapat
penting ni, Mas!” aku memelas manja. “Ya udah, sekarang
Zahra dimana?” “Di Taman Kota, ntar kalo Mas udah nayampe telpon Zahra ya!”
saranku sebelum menutup telpon yang hanya dijawab dengan kalimat singkat, ya.
Aku menghembuskan nafas
lega, akhirnya aku tidak perlu menerima teguran dari Kak Iwan karena tidak
mengikuti rapat Rohis kali ini. Aku mengirim pesan kepada Kak Mira, mengabarkan
keterlambatanku kali ini. Untuk
menunggu kedatangan Mas Dimas, aku memilih mengelilingi taman yang dihiasi
bunga-bunga yang bermekaran. Mataku tertuju pada bangku taman berwarna hijau,
bukan warna bangku itu yang menarik perhatianku, tapi sosok wanita yang
terduduk lemas di sana. Sepertinya aku mengenali wajah mungil itu. Rasa
perasaanku semakin membuncah, setelah aku yakin pada pengelihatanku aku
berbisik pelan “Icha’…” aku benar- benar tak
percaya ini, di mana jilbab yang menutupi auratnya? Di mana tawa yang menghiasi
bibirnya? Ada apa dengan Icha’? Icha’ tersentak kaget melihatku berdiri di samping kursi taman. Rasa
kaget dan takut terpancar jelas di raut mukanya. Ia berdiri dan lantas berlari
menginggalkanku. Sesuatu terjatuh, sebuah buku harian berwarna biru muda. Aku
memungut buku harian itu dan berlari mengejar langkah Icha’. “Icha’ tunggu!!”
teriakku sambil mengejar langkahnya. Icha’ tetap berlari dan berusaha menyeberangi jalan yang lumayan ramai. Dan tiba-tiba ….. “Praaak….” Sebuah kontainer
menabrak tubuh mungil seorang gadis yang hendak menyeberangi jalan. Aku tersentak, mematung di tempat dan
tak lama kemudian semua gelap .
***
Aku hanya bias pasrah, menyerahkan semua kepada Allah. Ini semua sudah
menjadi takdir-Nya. Setelah menghadiri pemakaman Icha’, aku kembali ke rumah dan mengunci diri di kamar. “Aku tidak boleh bersedih, aku tidak boleh menangis”
ucapku pada diri sendiri. Aku memeluk buku harian biru yang sudah ku baca
berulang kali. Dapat ku rasakan betapa perih
kehidupan Icha’ ketika ia harus tahu bahwa kedua orang tuanya akan bercerai, ketika ia
tak tahu kepada
siapa ia harus
menceritakan semua masalahnya, yang membuatnya lebih
memilih kembali ke masa lalunya yang kelam yang membuatnya kembali merasakan obat-obat
terlarang. Namun aku lega, karena semua itu ia
lakukan tanpa niat dari hatinya yang terdalam, ia hanya butuh ketenangan dan ia merasakan hal itu saat
kembali pada masa lalunya yang penuh bercak hitam. Buku harian ini menjawab semuanya.
Semua pertanyaan yang mucul dibenakku. Mengapa Icha’ tak menegurku
setelah kepergiannya dari rumah? Mengapa Icha’ selalu menghindar? Mengapa Icha’
kabur dari rumah? Mengapa Icha’ melepas jilbabnya?. Semuanya singkat, namun
cukup jelas untuk kumengerti. Ada
satu hal yang membuatku merasa nyaman, tenangdan lega. Icha’ tidak pernah membenciku, apalagi
menyalahkanku. Ia hanya menyalahkan dirinya. Ia tidak ingin berbicara padaku
karena ia takut aku akan membencinya. Humpph… ku hembuskan nafas dengan tenang,
melepaskan beban dan rasa bersalah yang telah lama kurasakan. “Maafkan aku,
Icha’ karena tak bisa menjadi sahabat baik untukmu …. Dan terimakasih telah
memaafkanku”
ujarku pelan disertai jatuhnya kristal bening dari kelopak mataku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar