Minggu, 28 April 2013

PELANGI PERSAHABATAN


PELANGI PERSAHABATAN
oleh : at-Tin Lee Thary

Rumah ini serasa neraka. Apa nggak ada yang ngerti kalo pertengkaran itu nggak bakal menyelesaikan masalah?. Selalu seperti ini, dan nggak ada yang menganggap aku ada…
Kemana aku harus pergi menghilangkan penat dan perih yang telah membusuk di hati ini?

Icha bangkit dari duduknya sembari menutup buku harian yang baru saja ditulisnya. Tadi ia sempat menelpon Zahra, teman karibnya agar menjemputnya di rumah sore ini. Namun ia tidak bisa. Padahal rasa sakit dan jenuh sudah bersarang dihatinya sejak seminggu yang lalu, saat Papi dan Maminya mulai bertengkar lagi. Icha sudah bosan menangis, karena ia tahu tangisnya tak akan menghasilkan apa-apa, dan sekarang ia ingin menceritakan kisah sedihnya kepada Zahra tapi sahabatnya itu tidak ada di sampingnya sekarang.
“Kemana aku harus pergi?” bisiknya menahan tangis.
Icha tetap berjalan tak tentu arah, sampai akhirnya langkahnya terhenti karena menatap sebuah gedung besar dengan cahaya remang-remang. Tempat yang dulu sering ia kunjungi untuk melepas penatnya, sebelum menggunakan jilbab yang kini senantiasa melindungi auratnya.
“Akankah ……” gumamnya bimbang.
***
Sudah tiga hari Annisa tidak menegurku. Aku tidak mengerti apa yang difikirkan sahabat karibku itu. Apa hanya kerena aku tidak memenuhi permintaannya untuk menjemputnya kemarin sore membuatnya marah dan tidak pernah menyapaku?. Kami memang bersahabat setahun yang lalu aku merasa nyaman bersamanya karena kami memiliki prinsip yang sama. Walapun Annisa yang biasa kupanggil Icha memiliki banyak perbedaan denganku dalam sifat. Icha yang manja, cuek dan gengsian. Dan aku, yach aku bisa dikategorikan sebagai cewek yang mandiri dan ramah.
“Kamu baik-baik saja kan, Ra?” Suara lembut Kak Mira menyadarkanku dari lamunan tentang Icha. Aku hanya tersenyum lemah, malu juga kepergok ngelamun, “Lebih baik bukunya ditutup kalo belum bisa konsentrasi” saran Kak Mira dan aku mematuhinya. Suasana sepi perpustakaan membuatku kembali termenung, dan saat itu aku tersadar nggak ada Icha’ ternyata nggak seru. Tapi apa yang harus ku lakukan, minta maaf? Bukannya ia yang salah? Bukannya ia yang tak menegurku? Sudahlah terserah dia. Aku melangkah pelan keluar dari perpustakaan tapi sebelumnya aku pamit pada Kak Mira yang tak lain adalah seniorku di Rohis.
***
“Ra kamu ma Icha lagi berantem ya?” tanya Silvi, teman sebangku ku. “Kok kamu bisa nanya gitu?” aku balik bertanya. “Iya, abisnya aku jarang ngeliat kalian main berdua, terus kamu sekarang lebih ngabisin waktu istirahat di Perpus, nggak sumpek tu?” tanyanya lagi. Aku terjebak, tapi hanya bisa tersenyum lemah. “Humph…cerita nggak ya…?” aku masih berfikir. “Ra … kamu ada masalah?” tanyanya lagi. Dan setelah itu cerita tentang aku dan Icha’ terus mengalir dari bibirku…
“Oooh…gitu…ya udah lebih baik kamu aja yang minta maaf, Bukannya Kak Iwan pernah bilang kalo kita harus menyambung silaturrahmi?!!” jelas Silvi panjang “Iya, Vi… aku ngerti, tapi kan yang salah itu Icha’. Dia yang tiba-tiba cuekin aku!” aku membela diri. “Zahra, kamu kayak gak tau Icha, dia kan emang gitu, cuek dan gengsi. Lebih baik kamu yang minta maaf gih, tu kan juga buat kebaikan persahabatan kalian! “Silvi kembali menasehati. Aku memikirkan kata-kata Silvi yang baru saja diucapkannya. Silvi memang benar, aku tak mau persahabatan ini hancur karena egoku. “Ya sudah, nanti aku akan menemuinya” ucapku pada Silvi yang hanya di balas dengan senyum.
                                                            ***
 “Pulang bareng yuk, Cha’!” ajakku menegur Icha saat kami berpapasan di tempat parkir. Dapat tertangkap dipengelihatanku kening Icha berkerut heran, “Apa-apaan ini?” geramku dalam hati. Sejak kapan Icha  terheran-heran seperti itu saat aku mengajaknya pulang bersama?.
“Sorry yach, aku pulang bareng Vera jawabnya simpel, sembari berlalu dari hadapanku. Apa-apaan ini? Sejak kapan Icha berubah seolah ia tidak mengenalku? Sejak kapan Icha mau berteman dengan Vera, orang yang hidup dengan penuh kebebasan itu? Aku sudah muak dengan semua ini.
“Icha, kamu kenapa sih?” tanyaku saat berhasil mendahului langkahnya. Icha membisu, Icha membisu, ia tidak menjawab pertanyaanku. “Kalau kamu emang masih marah karena aku nggak jemput kamu tiga hari yang lalu, aku minta maaf, lagipula aku kan udah ngasi tau kalau nenekku baru datang dan aku harus menjemputnya di Bandara” lanjutku. Aku berharap Icha mau mengerti karena memang itu yang terjadi. Icha tetap membisu. Aku benar-benar kecewa padanya, sebesar apakah salahku?. “Sejak kapan kamu dekat ama Vera? Bukannya kamu yang ngelarang aku buat bergaul ama dia?” tanyaku hati-hati. Icha menatap tajam ke arahku, seakan-akan ia ingin menerkamku, “Seenggaknya dia bakal selalu ada disaat seorang teman membutuhkannya”. Ucapan Icha bagai pedang yang siap menembusku. Aku benar-benar tidak menyangka hanya karena masalah sepele ini persahabatan kami akan hancur? Icha melangkah menjauh dari hadapanku, membiarkanku benar-benar mematung. Aku terdiam tanpa mencegahnya berlalu. “Mungkin memang ini yang ia inginkan” fikirku.
                                                            ***
Saat tiba dirumah, aku langsung menghempaskan tubuh di atas kasur biruku, menumpahkan tangis yang sedari tadi aku tahan agar tidak keluar. “Apa ini benar-benar salahku?” ujarku dalam isakan.
***
Aku menatap bayangan wajahku yang ada dicermin sembari sesekali merapikan jilbab putih yang menutup kepalauku. Sudah dua hari ini aku tidak melihat Icha’. Tepatnya dua hari setelah kejadian di tempat parikir itu, aku hanya bisa berdoa semoga ia baik-baik saja. Aku melangkah keluar dari toilet kecil sekolah. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku.
“Assalamu’alaikum, Ra” sapa Kak Mira pelan.
“Wa’alaikumsalam, Kak” jawabku sembari memberikan sesungging senyum untuk kakak seniorku ini. “Kakak cuman mau mastiin, Zahra udah dapat undangan rapat besok sore kan?Upzz… aku hampir lupa kalau besok sore akan ada rapat Rohis tentang acara Da’i SMU yang akan diadakan minggu depan. “Iya Kak, Zahra udah dapat undangannya” jawabku memastikan. Kak Mira tersenyum tenang. “Kalau begitu Kakak boleh nitip undangan buat Annisa? Soalnya dari kemarin Kakak nggak pernah ketemu Annisa”. Hummph .. bagaimana ini? Aku bimbang sejenak, namun tanpa ragu kugerakkan tanganku mengambil sepucuk surat yang diberikan Kak Mira. “Makasi ya, Ra. Kalau gitu Kakak duluan, ya! Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam” jawabku lemah.
***
“Apa, Icha gak pernah masuk?!” Aku benar-benar kaget saat Nila memberitahuku bahwa dua hari terakhir ini Icha tidak pernah masuk sekolah. “Iya emangnya kamu nggak tau, Ra?” tanyanya pelan. Aku hanya bisa menggeleng pasrah. “Ya udah makasi ya, La” ujarku tak bersemangat. Aku memang berbeda kelas dengan Icha, tapi itu tidak mengubah apapun dalam persahabatan kami, tentunya sebelum kejadian aku tidak menjemputnya semonggu yang lalu. “Icha…. Aku harus nyari kamu kemana?” gumamku pelan. Astaga. Aku baru tersadar, aku belum mencarinya ke rumah. Mengapa aku mendadak jadi tolol begini?
“Assalamu’alaikum” ujarku sembari mengetuk pintu rumah megah milik Icha’. Tak berapa lama kemudian pintu kayu itu terbuka, terlihat wajah ayu Tante Lidya, Mama Icha’ tersenyum hambar. “Wa’alaikumsalam, Ra! Ayo masuk” ajak Tante Lidya, aku pun hanya menurut. “Tumben ke sini, ada apa Ra?” Tante Lidya memulai percakapan. “Iya Tante Zahra lumayan sibuk akhir-akhir ini, mm… Ichanya ada, tante?” tanyaku ragu. Seketika air muka Tante Lidya berubah, dapat ku rasakan ada ketegangan di mata hitamnya, sedetik kemudian air matanya tumpah. Aku kaget melihat Tante Lidya menangis saat aku menanyakan tentang Icha’. Aku menghampiri Tante Lidya dan duduk di sampingnya berusaha menenangkan agar tangisannya mereda. “Tante kenapa?” tanyaku pelan. Sesaat tak ada jawaban, hanya isak yang terdengar “Icha….Icha …” guman tante Lidya pelan. Setelelah tangisannya mulai mereda Tante Lidya berbisik pelan. “Icha’ Kabur Ra!” aku benar-benar tercengang “Kabur? Tapi kenapa Tante?” aku mendengar suaraku bergetar, aku benar-benar tak percaya hal ini. “Waktu itu Tante dan Om bertengkar hebat, Tante marah besar saat tahu bahwa suami Tante membohongi Tante dan pergi dengan wanita lain. Saat itu kami benar-benar tidak menyadari bahwa Icha’ mendengar semua perkataan Papanya, dan ketika Papanya akan menampar Tante, Icha berdiri di hadapan Papanya dan Icha’ yang merasakan tamparan itu. Tante sempat kaget, namun setelah itu, tanpa bersuara Icha’ pergi dari rumah dan sampai sekarang belum pulang. Tante Lidya mengakhiri ceritanya dengan tangis. “Tante udah nyoba nyari Icha?” Tanya Zahra yang hanya dijawab dengan gelengan. “Tante tahu kalau Icha butuh ketenangan, Ra… karena itu Tante nggak nyari Icha, Tante tahu kalau Icha akan balik kalau hatinya udah tenang, tapi sampai sekarang Icha’ belum pulang Ra! Tante cemas!” “Memangnya kapan Icha’ pergi, Tante?” tanyaku pelan “Seminggu yang lalu” jawab Tante Lidya tegar. Terlihat dimatanya ada luka yang sedang dirasakannya. Aku tertunduk. Seminggu yang lalu.. Astaga! Itu adalah hari dimana Icha menelponku untuk menjemputnya. “Ya Allah … tolong aku … aku memang bukan sahabat yang baik..” bisikku dalam hati.
                                                            ***
“Mau kemana Ra? Kok mukanya lesu gitu?” Tanya Mas Dimas saat aku berjalan gontai menuruni anak tangga. Aku hanya mendengus kesal. “Ada masalah?” Tanya Mas Dimas seraya mendekatiku yang berdiri di ujung tangga. Aku hanya menggeleng pelan. “Udah nggak usah bo’ong, kalau udah balik, Zahra harus cerita semua masalah Zahra ke Mas, Okey!” seolah tak perlu jawaban, Mas Dimas membelai kepalaku yang dibaluti jilbab biru muda dengan pelan seraya berkata “Senyum dan ceria, gitu cara ngadepin masalah!” nasihatnya bijaksana. Aku hanya bisa memaksakan seuntai senyum untuk kakak semata wayangku itu.
                                                            ***
“Mas Dimas, jemput Zahra di taman ya!” ucapku cepat setelah menjawab salam Mas Dimas. Ra, ngomongnya pelan-pelan dong, biar jelas!”saran Mas Dimas. “Gini Mas, tadi kan Zahra di antar Bang Itok, trus di tengah jalan mobilnya mogok, ada yang salah ama mesinnya, jadi harus dibawa ke bengkel, Mas..” ceritaku pelan. “Terus?” “Mas ke sini jemput Zahra ya, soalnya ada rapat penting ni, Mas!” aku memelas manja. “Ya udah, sekarang Zahra dimana?” “Di Taman Kota, ntar kalo Mas udah nayampe telpon Zahra ya!” saranku sebelum menutup telpon yang hanya dijawab dengan kalimat singkat, ya.
Aku menghembuskan nafas lega, akhirnya aku tidak perlu menerima teguran dari Kak Iwan karena tidak mengikuti rapat Rohis kali ini. Aku mengirim pesan kepada Kak Mira, mengabarkan keterlambatanku kali ini. Untuk menunggu kedatangan Mas Dimas, aku memilih mengelilingi taman yang dihiasi bunga-bunga yang bermekaran. Mataku tertuju pada bangku taman berwarna hijau, bukan warna bangku itu yang menarik perhatianku, tapi sosok wanita yang terduduk lemas di sana. Sepertinya aku mengenali wajah mungil itu. Rasa perasaanku semakin membuncah, setelah aku yakin pada pengelihatanku aku berbisik pelan “Icha…” aku benar- benar tak percaya ini, di mana jilbab yang menutupi auratnya? Di mana tawa yang menghiasi bibirnya? Ada apa dengan Icha’? Icha’ tersentak kaget melihatku berdiri di samping kursi taman. Rasa kaget dan takut terpancar jelas di raut mukanya. Ia berdiri dan lantas berlari menginggalkanku. Sesuatu terjatuh, sebuah buku harian berwarna biru muda. Aku memungut buku harian itu dan berlari mengejar langkah Icha’. “Icha’ tunggu!!” teriakku sambil mengejar langkahnya. Icha’ tetap berlari dan berusaha menyeberangi jalan yang lumayan ramai. Dan tiba-tiba ….. “Praaak….” Sebuah kontainer menabrak tubuh mungil seorang gadis yang hendak menyeberangi jalan. Aku tersentak, mematung di tempat dan tak lama kemudian semua gelap .
                                                            ***
Aku hanya bias pasrah, menyerahkan semua kepada Allah. Ini semua sudah menjadi takdir-Nya. Setelah menghadiri pemakaman Icha’, aku kembali ke rumah dan mengunci diri di kamar. “Aku tidak boleh bersedih, aku tidak boleh menangis” ucapku pada diri sendiri. Aku memeluk buku harian biru yang sudah ku baca berulang kali. Dapat ku rasakan betapa perih kehidupan Icha’ ketika ia harus tahu bahwa kedua orang tuanya akan bercerai, ketika ia tak tahu kepada siapa ia harus menceritakan semua masalahnya, yang membuatnya lebih memilih kembali ke masa lalunya yang kelam yang membuatnya kembali merasakan obat-obat terlarang. Namun aku lega, karena semua itu ia lakukan tanpa niat dari hatinya yang terdalam, ia hanya butuh ketenangan dan ia merasakan hal itu saat kembali pada masa lalunya yang penuh bercak hitam. Buku harian ini menjawab semuanya. Semua pertanyaan yang mucul dibenakku. Mengapa Icha’ tak menegurku setelah kepergiannya dari rumah? Mengapa Icha’ selalu menghindar? Mengapa Icha’ kabur dari rumah? Mengapa Icha’ melepas jilbabnya?. Semuanya singkat, namun cukup jelas untuk kumengerti. Ada satu hal yang membuatku merasa nyaman, tenangdan lega. Icha’ tidak pernah membenciku, apalagi menyalahkanku. Ia hanya menyalahkan dirinya. Ia tidak ingin berbicara padaku karena ia takut aku akan membencinya. Humpph… ku hembuskan nafas dengan tenang, melepaskan beban dan rasa bersalah yang telah lama kurasakan. “Maafkan aku, Icha’ karena tak bisa menjadi sahabat baik untukmu …. Dan terimakasih telah memaafkanku” ujarku pelan disertai jatuhnya kristal bening dari kelopak mataku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar